WELCOME TO SOENANDIYO BLOG'S
Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label sekitar. Show all posts
Showing posts with label sekitar. Show all posts

Ini Dia Cara Sederhana Menjernihkan Air

menjelaskan cara sederhana untuk menjernihkan air

Air merupakan kebutuhan manusia yang paling penting, baik sebagai air minum, memasak, mandi, dan juga untuk kebutuhan mencuci. Seiring meningkatkanya pertumbuhan penduduk di dan ditambah ekspolitasi Sumber Daya Alam yang meningkat tanpa terbatas, mengakibatkan keberadaan air bersih semakin berkurang di Indonesia.

Keberadaan limbah-limbah industri dan rumah tangga juga turut menjadi salah satu penyebab utama dalam kelangkaan air bersih. Keberadaan limbah-limbah tersebut, membuat air menjadi keruh dan tidak layak lagi untuk dikonsumsi.

Cara Sederhana Menjernihkan Air

Pada kesempatan ini Soenandiyo Blog's akan mencoba berbagi informasi tentang cara sederhana menjernihkan air keruh. Informasi ini dimaksudkan agar ketersediaan air bersih yang semakin berkurang bisa sedikit teratasi.

Adapun cara sederhana menjernihkan air yang akan dipublikasikan kali ini  dapat juga dipergunakan untuk menjernihkan air sumur yang kuning. Untuk melihat bagaimana cara menjernihkan air secara sederhana secara lengkapnya, maka Anda bisa melihatnya secara lengkap dibawah ini:

Bahan dan Alat
  • Air sumur/sungai yang tidak tercemar
  • Batu kerikil sebagai bahan penyaring dan membantu aerasi oksigen.
  • Pasir untuk menahan endapan lumpur.
  • Arang sebagai penyerap partikel yang halus, penyerap bau dan warna yang terdapat di air.
  • Ijuk untuk menyaring partikel yang lolos dari lapisan sebelumnya dan meratakan air yang mengalir
  • Drum plastik/gentong/bak semen 200 lt
  • Gentong besar atau bak penampung dari semen
  • Pompa air Penyangga kayu (bila perlu)
  • Pipa bambu/Paralon atau selang plastik
  • Kran air
  • Kasa nyamuk dari plastik
  • Solasi paralon dan lem paralon.


Mempersiapkan Bak Penampung Air
  1. Buatlah kran pada ketinggian 10 cm dari bagian dasar, untuk masing-masing drum/gentong. Kran disambung saluran paralon 30 cm yang diberi lubang dan dibungkus dengan kasa nyamuk. Saluran paralon tersebut terdapat pada bagian dalam drum/gentong.
  2. Cucilah bahan-bahan penyaring seperti batu kerikil, arang, pasir dan ijuk hingga benar-benar bersih, dan kemudian dikeringkan.
  3. Susunlah bahan penyaring mulai dari bagian dasar keatas berturut-turut ijuk (ketebalan 15 cm); pasir (10 cm); batu kerikil (10 cm); ijuk (5 cm); arang (15 cm); pasir (10 cm); kerikil (10 cm); ijuk ( 5 cm); pasir (10 cm); dan batu kerikil (10 cm).
  4. Ingat, dalam penyusunannya harus rapat dan merata, jangan sampai ada rongga antar lapisan.
  5. Buat penyangga kayu berundak. Ketinggian undak pertama 50 cm dan udak kedua 170 cm ( disesuaikan dengan ketinggian drum).
  6. Susun kedua drum/gentong secara bertingkat. Drum/gentong pertama diletakkan di undak pertama (untuk penyating).
  7. Setelah mengendap baru air dialirkan. Alirkan air dari drum/gentong pertama ke gentong kedua. Air yang keluar pertama, mula-mula keruh dan setelah beberapa saat akan jernih. Setelah jernih, baru ditampung ke drum/gentong kedua.
Perlu Diperhatikan
Sebelum diminum air harus direbus atau sterilkan dengan SODIS. Setelah beberapa lama (lebih kurang 3 bulan) air yang keluar tidak jernih lagi, berarti filter perlu diganti atau dicuci lagi.

Untuk memperjelas bagaimana cara membuat bak penampungan air seperti yang sudah dijelaskan diatas, maka Anda juga dapat melihat pada gambar yang akan dipublikasikan berikut ini:


Demikianlah sekilas informasi tentang cara sederhana menjernihkan air yang dapat kami publikasikan kepada Anda. Semoga informasi ini kiranya bermanfaat, dan selamat mencoba...
0 comments

Air Bumi Kok Tak Pernah Habis, Apa Sebabnya?

penyebab mengapa air bumi tidak pernah habis

Setiap kali berpergian ke pantai, laut tetap saja biru dan airnya tak pernah kering. Litoralnya selalu terisi, tempat ribuan spesies akuatik menjalani hidup mereka. Spesies porifera, coelentrata, dan beberapa arthropoda merupakan warga tetap lautan. Meskipun mereka tidak mengenal E-KTP ataupun identitas sejenis lainnya, namun bentos dan nekton harus rela berbagi tempat tinggal dengan hewan invertebrata tersebut.

Menurut data Census of Marine Life[1] bahwa laut dunia dihuni oleh 950.000 spesies (jenis). Dan dari jumlah tersebut, 200.000 spesies telah diidentifikasi dan dideskripsikan, sementara sisanya masih dalam proses. Itu artinya, jika laut kering, bisa dipastikan bumi akan kehilangan 950.000 spesies yang ada di laut. Belum lagi dampak yang diakibatkan oleh ketiadaan spesies-spesies tersebut, termasuk bagi manusia. Beberapa sumber makanan manusia berasal dari laut seperti ikan. Dan jika ikan sampai punah, manusia pun akan kehilangan sebagian makanan yang mengandung protein tinggi.  Oleh karena itu, suatu kebahagian hingga saat ini, bila laut masih berair.

Indonesia adalah salah satu Negara kepulauan terbesar dengan jumlah pulau 17.480 pulau. Sehingga Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 95.181 km (data PBB: 2008). Itu artinya setiap warga Negara yang tinggal di Indonesia, dapat melihat gagahnya laut dengan mudah. Sudah barang tentu, setiap warga yang tiggal di Indonesia seharusnya memiliki rasa bahagia ketika melihat laut, karena laut tidak pernah kering.

Air laut tidak pernah berkurang meskipun dia harus mengisi palung Mariana (palung terdalam di Bumi) sedalam 11 kilometer. Dan air laut pun tidak pernah berkurang walaupun harus mengisi 165.385.450 km2 lautan pasifik (hampir separuh luas permukaan bumi).

Sampai sekarang, masih menjadi perdebatan tentang volume air yang ada di bumi. Sebagian kalangan mengatakan bahwa volume air di bumi tetap namun sebagian lagi mengatakan bahwa volume air tidak tetap.

Menurut United States Geological Survey (USGS)[2], banyaknya air di bumi jika dibentuk menjadi bentuk bola, maka akan menjadi bola yang berdiameter 860 mil (1.385 km) atau sekitar sepertiga ukuran bulan. Menurut hasil penelitian David Gallo[3] direktur dari proyek Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI)  bahwa total volume air di bumi sekitar 1.332.000.000 km3. Dan volume air ini akan tetap dan tidak akan habis, setidaknya hingga jutaan tahun ke depan.

Namun beberapa kalangan yang menentang kestatisan volume air mempunyai antitesa bahwa jumlah air di bumi dapat berkurang. Hal ini dapat terjadi karena adanya proses hidrolisis, dimana H2O diubah menjadi H+ dan O-. Sementara H+(hidrogen) akan meninggalkan bumi dan O-(oksigen) akan berada di atmosfer. Dapat dikatakan H2O yang terhidrolisis tidak akan kembali menjadi air (H2O) kembali dalam bentuk apapun.

Namun jika air bumi bisa berkurang, seharusnya air yang ada dari milyaran tahun yang lalu sudah habis sekarang. Toh air ternyata masih tetap ada di bumi. Dan hal ini membuktikan bahwa air di bumi stabil. Bahkan beberapa penelitian mengatakan bahwa eletrolisis H2O menjadi Hidrogen dan Oksigen dapat distabilkan melalui mineral-mineral yang ada di dalam tanah. Beberapa mineral yang masih tersimpan jauh di bawah tanah, dapat melepaskan molekul H2O. dan stabilitas air dapat terjaga melalui proses kompensasi.

Pada dasarnya tidak habis-habisnya air di bumi disebabkan karena adanya siklus air, sehingga volume air bumi tetap. Justru perubahan air bukan pada kuantitasnya, melainkan kualitas air. Air dapat memiliki bentuk-bentuk zat yang bervariasi. Ada cair, padat atau pun gas. Atau kualitas air dari segi keasinannya, ada air laut dan ada air tawar. Namun tetap saja, kuantitas air akan selalu tetap. Dan berikut ini adalah skema siklus air:


sumber: www.willoughby.nsw.gov.au

Dari skema di atas dapat dilihat bahwa proses turunnya air (H2O) terjadi dari atmosfer ke bumi lalu kembali lagi ke atmosfer. Peristiwa ini terjadi secara siklik, sehingga disebut siklus air (water cycle). Perisitiwa ini menyebabkan air di bumi akan stabil secara kuantitatif. Matahari sebagai sumber energi panas, sangat berperan pada proses siklus air.

Adapun tahapan-tahapan siklus air yang ada pada skema di atas adalah sebagai berikut:

a.       Evaporasi.
Evaporasi adalah proses penguapan yang berasal dari larutan. Penguapan ini hanya menyerap kandungan pelarut (air/H2O) saja. Sehingga zat terlarut memiliki konsentrasi yang semakin tinggi. Hal ini senada dengan pendapat Evaporasi merupakan proses penguapan air yang berasal dari permukaan bentangan air (Lakitan, 1994). Dengan demikian, evaporasi dapat terjadi di genangan air seperti di kolam, danau, sungai dan laut.  Dan bila terjadi proses evaporasi maka air akan terangkat ke atmosfer menjadi uap air.

b.      Transpirasi.
Transpirasi merupakan proses penguapan yang hampir mirip dengan evaporasi. Hanya saja transpirasi adalah penguapan air yang terjadi pada tanaman. Transpirasi merupakan penguapan air melalui kutikula, stomata dan lentisel. Transprasi yang terjadi di daun dikarenakan hilangnya molekul-molekul air dari tubuh tanaman  dan disebabkan juga karena daun-daun itu lebih kena udara daripada bagian-bagian lain dari suatu tanaman (Dwijdoseputro, 1990:92).

c.       Kondensasi.
Setelah air naik ke atmosfer dan berubah menjadi uap-uap air, maka uap-uap air tersebut mengalami penggabungan/kondensasi membentuk awan-awan. Awan-awan yang memiliki konsentrasi uap air yang tinggi akan semakin abu-abu dan lama-kelamaan menghitam. Itu sebabnya jika hujan mau turun, ditandai dengan awan yang semakin menghitam. Awan yang menghitam merupakan indikator bahwa uap air yang telah menjadi awan, telah mencapai titik jenuh sehingga rintik-rintik air akan turun menjadi hujan ataupun salju.

d.      Presipitasi.
Turunnya air yang telah banyak di atmosfer ke bumi dapat berwujud hujan ataupun salju. Hujan terjadi jika suhu yang mempengaruhinya cukup tinggi, sedangkan turunnya salju dipengaruhi oleh suhu yang lebih rendah. Dan inilah yang menyebabkan Negara di daerah tropis tidak mengenal salju, karena daerah tropis memliki suhu yang lebih tinggi. Sehingga sebelum sampai ke permukaan, gumpalan air yang akan mencapai tanah, sudah mencair.

e.       Infiltrasi.
Infiltrasi merupakan penyerapan air yang tergenang di permukaan tanah, menuju ke dalam tanah (Soetoto dan Aryono, 1980). Hal ini dipengaruhi oleh tekanan yang diberikan air ke tanah. Infiltrasi pun tidak terlepas dari hukum gravitasi. Gravitasi mempengaruhi kecepatan dan kemampuan tanah menyerap air. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Asdak (2002) yang menyatakan bahwa proses terjadinya infiltrasi disebabkan oleh tarikan gaya gravitasi bumi dan gaya kapiler tanah. Sementara Seyhan (1990) menyebutkan bahwa, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya infiltrasi adalah topografi (kemiringan tanah), intensitas curah hujan, tekstur tanah, kerapatan massa, kerapatan partikel, ruang pori tanah, dan bahan organik penyusun tanah.

f.       Perkolasi
Perkolasi adalah kelanjutan dari infiltrasi. Setelah air melewati permukaan tanah, selanjutnya air akan masuk lebih dalam lagi. Perkolasi merupakan gerakan air ke bawah dari daerah air tidak jenuh (daerah antara permukaan tanah sampai ke permukaan air tanah) ke dalam daerah yang jenuh atau daerah dibawah permukaan air  (Soemarto, 1987). Dan air hasil proses perkolasi inilah yang akan menggenangi waduk, sungai, laut dan danau. Sementara air dari sungai juga akan bermuara ke laut. Setelah itu, air akan kembali lagi mengalami proses evaporasi, transpirasi, dan seterusnya sehingga terbentuk suatu siklus yang disebut siklus air.

Dari proses siklus air, dapat kita lihat bahwa siklus ini telah terjadi sejak jutaan bahkan milyaran tahun yang silam. Sehingga dapat dikatakan bahwa siklus air menyebabkan kuantitas air pada dasarnya stabil. Tidak ada perubahan jumlah air di bumi. Kalaupun ada, tidak terlalu berpengaruh signifikan dibandingkan dengan total jumlah air di bumi.

Meskipun jumlah air di bumi sukar berkurang, namun yang lebih penting lagi adalah menjaga kualitas air bersih yang ada di lingkungan. Karena mengkonsumsi air yang tidak bersih dapat mengganggu aktivitas metabolisme manusia. Oleh karena itu, mari menjaga kualitas air bersih dengan memelihara dan menjaga lingkungan.

Catatan kaki:
[1] merupakan komunitas yang terdiri dari 80 negara lebih dan 2.700 ilmuwan yang memiliki sekretariat bersama di Washington, DC, Amerika Serikat. Konsentrasi keilmuwan dan cakupan kerja komunitas ini adalah biota laut.

[2] atau United States Geological Survey berkantor di Reston, Virginia, AS. Organisasi ini adalah organisasi sains yang menyediakan informasi tentang kesehatan dan lingkungan.

[3] adalah direktur proyek khusus Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI). Gallo memperoleh gelar master ilmu geologinya dari State University of New York di Albany dan gelar Ph.D. dalam ilmu oseanografi dari Universitay of Rhode Island.

Daftar Referensi:

Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada  University      Press. Yogyakarta.
Davie, T. 2008. Fundamentals of Hidrology. Routledge. London and New York.
Dwidjoseputro.1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Pt Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Lakitan B. 1994. Dasar-dasar Klimatologi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Seyhan. E.1990. Dasar-dasar Hidrologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Soemarto, C.D., 1987. Hidrologi Teknik. Usaha Nasional, Surabaya.
Soetoto, dan Aryono. 1980. Mekanika tanah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan    Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta.

dari berbagai sumber
0 comments

Mengapa Setahun Ada 365 Hari?

mengapa setahun ada 365 hari?

Bagaimana cara menentukan jumlah hari dalam satu tahun tanpa menggunakan alat? Cara ini sudah dipakai orang Mesir dan Mesopotamia. Mari kita pelajari

Pernyataan konyol. Hehe. Tapi bener loh, teman gue ada yang bilang kalau orang zaman dulu itu hebat banget sampe bilang mereka tahu jumlah menit dalam satu hari dengan tepat. Tapi waktu saya lihat berapa jumlah hari dalam satu tahun, teman gue bilang orang zaman dulu bilang 360 hari!

Yaaa. Lumayan hebat sih. Bisa menghitung jumlah menit dalam satu hari, walaupun gagal menghitung jumlah hari dalam satu tahun. Seperti Tim Panser Jerman yang berhasil mengalahkan Tim Tuan Tanah Argentina, tapi akhirnya kalah di seruduk Tim Banteng Spanyol. Tapi lebih hebat Tim Jeruk Belanda kan? Bisa nyampe final. Hehe

Cara menentukan panjang tahun yang paling mudah dan teliti itu adalah dengan melihat bintang (bintik). Pilih satu bintang. Amati terus setiap malam. Kalau kamu fokus pada satu bintang, kamu akan melihat kalau setiap malam, posisi bintang itu sedikit bergeser. Ini karena posisi bumi bergeser dalam orbitnya mengelilingi matahari. Dan, tepat 365 hari kemudian, bintang tersebut kembali pada posisi semula.

Orang Mesir menggunakan cara ini. Mereka memakai Sirius, bintang paling terang di langit. Dan mereka berhasil mendapatkan 365 hari dalam satu tahun. Orang Mesopotamia, Yahudi, Romawi dan Arab, memakai yang lebih terang lagi. Yaitu Bulan. Sayangnya bulan bukan bintang dan terlalu dekat dengan bumi, akibatnya satu tahun yang mereka hitung adalah 354 hari saja. Mesopotamia, Yahudi dan Romawi menyadari ketidak telitian ini dan mereka menyesuaikan kalender mereka dengan menyelipkan bulan tambahan sehingga satu tahun bisa jadi 365 hari. Masalah ini penting bagi negara lintang atas, karena mereka punya empat musim. Mereka harus pake tahun yang teliti untuk memastikan saat musim berganti. Arab yang berada di selatan tidak terlalu terpengaruh, akibatnya mereka tetap bertahan dengan kalender bulannya.

Jumlah 365 hari itu tidak punya banyak faktor bilangan. Beda dengan 360. Anda bisa membagi 360 dengan 1,2,3,4,5,6, dsb dan tetap menghasilkan bilangan bulat. 365 ganjil. Orang Maya dari Amerika Tengah akibatnya membagi hari mereka ke dalam 18 bulan dengan masing-masing 20 hari. Tapi itu baru 360. Orang Maya sudah tau kalau satu tahun 365 hari. Akibatnya gimana? Mereka menambah lima hari lagi yang disebut hari sial. Sama dengan orang Mesir. Mereka membagi setahun dalam 12 bulan masing-masing 30 hari, dan menambahkan lima hari sial. Teman kita, yang kita omongin di atas, tampaknya bercerita tentang orang masa lalu yang gak peduli dengan selisih lima hari ini. Mungkin karena tinggal di daerah dua musim.

Secara ilmiah, metode menentukan panjang tahun dengan cara ini disebut metode sidereal. Sekarang kita tahu panjang satu tahun sidereal dengan sangat teliti. Tahu berapa? 365.256 363 051 hari (365 hari 6 jam 9 menit 9.7676 detik). Dan ini tidak tetap. Peristiwa seperti gempa bumi raksasa atau letusan gunung berapi dapat memperlambat atau mempercepat (tergantung posisi bumi di orbit, kalau di perihelion dia melambat, kalau di aphelion meningkat) dalam beberapa mikro detik. Ambil contoh gempa Chile kemaren yang mencapai 8.8 skala Richter, mempercepat panjang hari saat kejadian sebesar 1.26 mikro detik. Posisi relatif kita terhadap venus dan Mars juga mempengaruhi panjang waktu astronomis. Gaya tarik bulan juga bisa. Angin matahari juga mendorong bumi mundur hingga setahun bertambah panjang 1.25 mikro detik. Efek Poynting-Robertson (geseran debu di atmosfer bumi) memperpendek 30 nano detik setiap tahun. Belum lagi efek gelombang gravitasi yang memperpendek 165 atto detik per tahun. Secara total, panjang waktu dalam setahun di bumi ini meningkat sekitar 0.002 detik per abad.

Teman gue bilang, well, jangan-jangan zaman orang dulu bilang setahun 360 hari itu emang betul. Di zaman mereka, satu tahun memang 360 hari. Bukan salah hitung, tapi karena efek segala macem yang baru saja kamu sebutin. Bisa jadi, tapi justru terbalik sebenarnya. Sekitar 400 juta tahun lalu, justru setahun itu jumlah harinya lebih panjang dari sekarang. Setahun panjangnya 400 hari! Dan ini karena panjang satu hari itu lebih pendek dari sekarang. Di waktu itu, sehari hanya sekitar 22 jam saja. Dan sehari di waktu bumi terbentuk 4.5 miliar tahun lalu, cuma 6 jam lamanya! Nah, karena sebelumnya orang kuno yang kamu bilang itu mampu menghitung bukan hanya jumlah jam, tapi hingga ke jumlah menit dalam sehari dengan tepat, berarti seharinya tetap 24 jam tanpa kurang satu menit pun. Dan ini berakibat pada setahun yang juga tetap 365 hari, bukannya 360 hari.
0 comments

Mengapa Langit Dan Laut Berwarna Biru?

 
Pernahkah kamu berpikir mengapa langit dan laut itu tampak biru? Padahal kalau kita dekati, langit dan laut itu tidak berwarna. Warna biru yang kita lihat di langit itu merupakan hasil dispersi cahaya matahari. Matahari memancarkan cahaya putih ke bumi. Bumi dilindungi oleh atmosfer yang tersusun dari berbagai macam gas seperti nitrogen, oksigen, argon, dan juga uap air yang akan menyerap cahaya putih tadi.

Kalau kamu ingat, di pelajaran fisika pernah disinggung mengenai cahaya putih yang jika dilewatkan bidang prisma, maka akan terdispersi menjadi spektrum cahaya. Nah, begitu juga dengan cahaya matahari, cahaya ini setelah masuk melewati atmosfer bumi, akan terdispersi menjadi berbagai macam panjang gelombang. Masing-masing panjang gelombang ini akan muncul sebagai berbagai macam warna seperti warna pelangi. Setiap warna dipancarkan pada ketebalan prisma yang berbeda. Panjang gelombang yang tinggi jika ditangkap oleh mata akan terlihat sebagai warna merah, orange, dan kuning. Sedangkan panjang gelombang yang rendah dikenali oleh mata sebagai warna biru, ungu, dan hijau. Warna-warna yang memiliki panjang gelombang tinggi tadi akan diteruskan secara lurus sedangkan warna-warna yang panjang gelombangnya rendah akan disebarkan ke segala arah. Itulah mengapa warna biru menjadi dominan di langit karena warna biru dari cahaya matahari disebarkan ke segala arah. Peristiwa ini dinamakan Rayleigh scattering. Menurut Rayleigh, cahaya yang memiliki panjang gelombang rendah akan memiliki intensitas perpendaran yang lebih besar.

Ketika senja menjelang, langit akan berubah warna menjadi merah kekuningan. Hal ini terjadi karena posisi matahari yang tadinya tepat di atas kita berubah menjadi serong sehingga jarak pandang kita juga berubah. Karena jarak yang berubah ini, maka ketebalan atmosfer yang ditembus cahaya matahari hingga ke mata kita juga bertambah tebal. Atmosfer bumi kita dapat dianalogikan seperti prisma yang akan meneruskan cahaya dengan warna tertentu pada ketebalan tertentu. Warna yang memiliki panjang gelombang tinggi seperti warna merah diteruskan pada atmosfer yang lebih tebal sehingga warna langit tampak merah jingga pada saat matahari terbit atau terbenam. Warna biru pada laut tak lain merupakan pantulan dari warna langit. Begitulah ceritanya, mengapa langit dan laut berwarna biru.

0 comments
 
Support : Info Hp | Metafisika | Puisi Hebat
Copyright © 2011. Soenandiyo Blog's - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger